Desau seruling bambu
Di depan hukum berdiri seorang penjaga pintu. Datanglah pria desa berikat
kepala hachimaki yang meminta
diizinkan masuk ke dalam hukum. Si penjaga itu menatap hachimaki* yang melingkari kepalanya dan berpikir apakah keteguhan
hati si pria ini akan seteguh arti hachimaki
yang mengikat kepalanya. (*Hachimaki
biasa dipakai sebagai perlambang kegigihan dalam berusaha).
Si pria desa mengambil bangku yang diberikan si penjaga pintu dan
mulai membuka bekalnya. Empat buah bakpau kering yang dibungkus kain putih yang
sudah dekil. Ia membelah bakpau dan mulai mengunyahnya perlahan. Bakpau yang
kering itu membuatnya haus. Dari keranjang rotan yang bertali kulit itu ia
mengeluarkan labu botol siolok yang berbentuk angka 8 itu dan menenggak habis
air di dalamnya. Pria desa itu mengusap sisa air di mulutnya dengan punggung
tangannya yang kotor.
Penjaga pintu itu mengamatinya dengan seksama. Si pria desa
kemudian mengeluarkan sebuah seruling bambu dan mulai meniupnya. Desauan indah
mengalun dari suling bambu itu, berpadu dengan gemerisik angin yang meniup
pepohonan bambu di sekelilingnya. Pria desa itu melantunkan nyanyian yang
menimbulkan kenangan dan membangkitkan perasaan aneh si penjaga pintu.
Si penjaga pintu memicingkan mata dan menatap pria desa itu dengan
seksama. Rahangnya yang tegas, kulitnya yang kasar kecoklatan dan lengannya
yang berotot jelas menandakan pria desa ini sering bekerja di lapangan. Mungkin
ia seorang petani atau peternak, dilihat dari pakaian dan topi capingnya. Tapi
Ia heran, kenapa seorang pria desa bisa bermain musik sebaik itu, dan siapakah
yang mengajarinya?
Hari demi hari berlalu dan kadang si pria desa menawarkan agar Ia
diperbolehkan masuk dengan imbalan sebuah lagu yang dimainkan dari seruling
bambu. Penjaga pintu itu terkekeh. Tawaran yang tolol, pikirnya. Mereka sering
berbincang, layaknya tetangga baru dengan tetangga lama. Tapi percakapan mereka
tidak pernah menggoyahkan keputusan si penjaga pintu untuk membukakan pintu
itu.
Pria desa itu selalu memainkan seruling bambu itu sehabis makan.
Si penjaga pintu pernah bertanya, kenapa dia selalu bermain sesudah makan dan
bukan sebelum makan. Menurutnya, mendengarkan musik itu ibarat air yang
membantu jalannya makanan ke pencernaan dengan lembut. Musik akan membantu
otot-otot tubuh supaya lebih rileks, sehingga pencernaan akan lebih lancar.
Sejak hari itu, si penjaga pintu seperti kecanduan mendengarkan alunan seruling
bambu setelah makan. Tanpa mendengarkan alunan lagu itu, hatinya terasa gelisah
dan merasa ada yang kurang.
Sehabis meniup serulingnya, seperti biasa, si pemuda desa akan
bertanya, bolehkah Ia masuk. Si penjaga pintu akan tersenyum dan menjawab dengan
menggelengkan kepalanya. Kadang si penjaga pintu heran, tidak bosankah pria
desa ini mencoba?
Pria desa itu semakin menua. Ia tidak lagi sekuat dulu. Kulitnya
semakin mengeriput, rambutnya memutih dan suaranya semakin lirih. Ia pun tidak
bisa lagi memainkan serulingnya dengan gagah seperti pertama kali Ia datang.
Kadang-kadang jari jemarinya yang terkena artritis gemetar saat meniup seruling
itu, dan Ia harus berhenti sebentar. Ia mengambil napas, lalu berusaha melanjutkan
meniup seruling itu dengan sisa tenaganya.
Dengan napas yang terengah-engah, si pria desa berusaha
menyelesaikan lagunya. Tapi Ia tidak sanggup lagi. Si pria desa mulai
merebahkan tubuhnya dan dengan perlahan tangannya mulai terkulai. Napasnya
semakin perlahan.
Si penjaga pintu mendekati si pria desa ini dan berjongkok di
dekatnya. Dilihatnya si pria desa itu terbaring lemah tak berdaya. Di lengan
kanannya masih tergenggam seruling bambu itu.
Tapi lagu itu belum selesai!
Lagu itu harus selesai!
Si penjaga pintu itu mengambil seruling bambu itu dari tangan si
pria desa dan mendekatkan mulutnya ke lubang seruling bambu itu dan mulai
meniupnya. Ia melanjutkan lagu yang tadi dimainkan si pria desa. Puluhan tahun
Ia mendengar dan memperhatikan si pria desa itu bermain, dan Ia hapal betul
bagaimana lagu ini harus berakhir.
Tidak boleh!
Lagu ini tidak boleh berhenti!
Jemari si penjaga pintu itu dengan lincah menari di atas seruling
bambu itu, mengetuk, menutup dan membuka lubang-lubang yang menghasilkan irama
yang menghanyutkan. Nada demi nada mulai menghipnotis si penjaga pintu, dan
kelopak matanya mulai tertutup. Pikirannya berusaha mencegah dan
membangunkannya dari mimpi.
Berhenti! Kau mungkin tidak akan bangun lagi!
Tapi Ia tidak kuasa melawan candu itu. Jari jemarinya terus
bermain dan kelopak matanya semakin menutup.
Sementara itu jari si pria desa mulai bergerak. Tubuhnya yang
tadinya mendingin mulai kembali menghangat. Napasnya kembali menjadi lebih
teratur dan tak lama Ia terbangun.
Dilihatnya si penjaga pintu sudah terbaring di depan pintu dengan
seruling di bibirnya dan mata yang terpejam. Si pria desa lalu bangkit dan
mulai membuka pintu hukum.
Di balik pintu hukum, sebuah jurang terbentang. Dilihatnya jajaran
papan yang melayang tanpa struktur penopang apapun membentang di hadapannya.
Jembatan papan itu menuju ke sebuah lansekap indah yang terpampang di
hadapannya. Pria desa itu menguatkan hatinya dan mulai melangkahkan kakinya
menginjak papan itu. Ia menginjakkan satu kakinya dan papan itu mulai turun ke
bawah karena beban tubuhnya. Ia mengangkat kakinya yang satu lagi dan
menempatkan di sisi kaki satunya. Perlahan papan itu mulai turun dan Ia terus
turun ke bawah. Ia melayang.
Jatuh.
Jauh.
Ke ujung tak berdasar.
---
(Tulisan di atas adalah sebuah karya dekonstruksi dari "Di depan hukum" karya Kafka, sebagai bagian dari praktek langsung Kelas Menulis Cerpen Kompas 2018)
Comments
Post a Comment